Tahun Ini Ekonomi Indonesia Diramal akan Tumbuh 3 Persen

Tahun Ini Ekonomi Indonesia Diramal akan Tumbuh 3 Persen

Tahun Ini Ekonomi Indonesia Diramal akan Tumbuh 3 Persen

Tahun Ini Ekonomi Indonesia Diramal akan Tumbuh 3 Persen – Ekonomi adalah ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa. Istilah “ekonomi” sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu οἶκος yang berarti “keluarga, rumah tangga” dan νόμος yang berarti “peraturan, aturan, hukum”.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada tahun ini di ramal akan berada di kisaran 3,9 persen. Kenaikan ini akan mulai tampak dari geliat perekonomian pada kuartal I 2021 sebesar 0,8 persen secara year-on-year (yoy). Kami melihat secara umum tahun 2021 masih penuh dengan tantangan, namun tentu akan lebih baik dari 2020.

Begitulah kata Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean dalam diskusi CIMB Niaga yang digelar secara virtual di Jakarta, Kamis (25/2/2021). Ada sejumlah faktor yang membuat Adrian memprediksi pertumbuhan idn poker deposit pulsa 10rb tanpa potongan ekonomi Indonesia mencapai 3,9 persen.

1. Membaiknya perekonomian di beberapa sektor dan prospek dorongan likuiditas

Kabar Baik, Tahun Ini Ekonomi Indonesia Diramal Tumbuh 3,9 Persen

Adrian mengatakan faktor pertama yang mendorong perbaikan ekonomi domestik yakni base-effects. Kemudian normalisasi perekonomian di pulau Jawa yang mencakup hampir 60 persen dari total PDB Indonesia yang di topang oleh sektor keuangan, telekomunikasi, infrastruktur publik melalui alokasi APBN, dan kesehatan.

Hal tersebut juga sejalan dengan di mulainya program vaksinasi yang di lakukan oleh pemerintah.

Faktor kedua, prospek dorongan likuiditas lewat stimulus fiskal terutama belanja modal yang di dukung oleh penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia 7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR). Adrian menilai suku bunga acuan tidak perlu lagi diturunkan oleh bank sentral.

“Hal ini penting karena dua alasan yaitu pertimbangan eksternal terkait masih sangat besarnya ketidakpastian arah pergerakan aset global di 2021 yang pasti akan berdampak pada stabilitas rupiah. Selain itu, dari sisi domestik untuk menjaga agar monetary tank tidak terlalu kosong, sehingga dapat mencegah munculnya komplikasi saat akan di lakukannya normalisasi moneter pasca 2022/2023,” ujar Adrian.

2. Faktor-faktor yang bisa jadi penghambat perekonomian

Sementara, Adrian membeberkan faktor lain yang dapat menghambat perbaikan ekonomi dalam negeri. Pertama adalah terkait terhambatnya dorongan fiskal oleh kelambanan tata administratif, sehingga pengeluaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya akan mencapai maksimum 85-90 persen dari yang telah di anggarkan.

Dari sisi penerimaan, APBN juga akan terkendala oleh kurangnya penerimaan pajak sebagai akibat dari belum pulih sepenuhnya kondisi perekonomian dan berbagai insentif penurunan pajak yang telah dan akan di berikan. Kendala sisi penerimaan dan keperluan untuk menjaga arus kas APBN berpotensi menghambat efektivitas dari rencana stimulus fiskal.

Faktor keempat yaitu masih adanya kendala mobilitas manusia yang merupakan konsekuensi dari berkepanjangannya pandemi di 2021, sehingga akan menyebabkan belum signifikannya ekspansi produksi.

Menurut Adrian, masih terkendalanya mobilitas manusia di picu relatif rendahnya kecepatan program vaksinasi di Indonesia yang hingga akhir tahun 2021 di perkirakan belum akan mencapai target.

“Artinya, prospek belum akan terbentuknya herd immunity berpotensi menyebabkan perusahaan belum berani menggenjot produksinya secara maksimal pada tahun ini, selain rumah tangga yang masih akan menahan belanjanya,” ucap dia.

3. Pengurangan belanja modal bisa berdampak pada perekonomian Indonesia

Faktor kelima berasal dari pengurangan belanja modal (capital expenditure atau capex) yang masih akan berlanjut di 2021. Ia menilai, hal tersebut akan terus terjadi di segmen korporasi swasta.

Implementasi proyek infrastruktur dari belanja modal APBN kemungkinan besar akan menghadapi tantangan dari belum akan terciptanya herd immunity.

Adrian menuturkan, rendahnya capex di 2020 telah berdampak pada turunnya angka potential output di 2021. Belum terciptanya optimal mix antara capex swasta dan capex pemerintah di tahun ini juga berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi di 2022.

“Terkait tenaga kerja, bila kita belajar dari episode krisis kita sendiri 1998 dan krisis di negara-negara lain. Pekerja yang terlalu lama di rumahkan akan cenderung kesulitan memperoleh kembali pekerjaannya. Pola ini berpotensi terulang di 2022. Terlebih saat bisnis semakin mengarah kepada moda digital atau bahkan penggunaan Artificial Intelligence yang lebih marak,” katanya.

4. Tiga katalis di harapkan dapat menjadi game changer perekonomian Indonesia

Adrian melihat hanya tersisa tiga katalis yang di harapkan berperan sebagai game changer. Ketiganya yaitu: implementasi dari Omnibus Law Cipta Kerja mulai bulan Februari 2021. Kedua kehadiran lembaga Sovereign Wealth Fund (SWF) yang di harapkan mampu berfungsi penuh dan siap menjalankan operasi investasinya di Maret 2021. Serta urgennya kebutuhan akan rekonstruksi struktur kelembagaan keuangan. Serta penyesuaian terhadap model pembiayaan pembangunan. misalnya dalam bentuk mobilisasi dari long-term savings.

“Kendati masih penuh tantangan besar, kami melihat peluang pertumbuhan ekonomi tahun 2021 masih dapat di optimalkan. Salah satu upaya untuk menjaga pertumbuhan tersebut yaitu pentingnya kebijakan yang konsisten, komprehensif, mendetil, dan sistematis. Termasuk dalam cara penanggulangan COVID-19. Tentu, kebijakan tersebut juga perlu di dukung oleh semua pihak, sehingga pandemi.  Lalu dan efeknya perlahan dapat di atasi dan ekonomi Indonesia dapat tumbuh sesuai rencana,” imbuh dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *